One Aqidah

Artikel

[Artikel] Mengenal Erti TAQWA

December 30, 2012 by admin in Aqidah

Buletin Jum’at At-Tauhid
http://almakassari.com/

Taqwa adalah wasiat Allah -Azza wa Jalla- kepada generasi ummat-umat terdahulu dan kepada umat sekarang sampai akhir zaman. Ini tergambar di dalam firman Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (yang artinya):

Sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. (QS. An-Nisaa’: 131).

Al-Imam Al-Hafizh Abul Faroj Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullah- berkomentar ketika menjelaskan sebuah hadis agung tentang taqwa: “Wasiat ini adalah wasiat yang agung lagi menyimpulkan seluruh hak-hak Allah, dan hak-hak para hamba, sebab hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka bertaqwa kepada-Nya dengan sebenarnya. Taqwa adalah wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan terkemudian”. [Lihat Iqozhul Himam min Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 242), karya Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy]

Lalu apakah sebenarnya pengertian TAQWA? Kita sering mendengar kata “TAQWA” di atas mimbar-mimbar dari lisan para khatib. Cuma banyak diantara kita yang tidak memahami kandungan faedah yang berkilau bagaikan intan pertama yang terpendam di dalam kata “taqwa”.

Permata taqwa itu perlu kita gali dari tempatnya, sehingga kita mengenal arti taqwa, keutamaan taqwa, kedudukan taqwa, tiang-tiang taqwa, dan buah dari taqwa.

Banyak diantara kita yang sering melihat dan mendengar permata taqwa ini dari orang-orang (pendakwah-pendakwah) yang menyebut-nyebutnya. Tapi ia tak mengerti permata taqwa yang hakiki dan sebenarnya, bahkan ia hanya mendengar dan melihat permata taqwa yang palsu, dan bukan sebenarnya.

Sebab orang-orang yang menjajakan permata tersebut, tak mengerti hakikat permata yang ditawarkankannya. Mungkin sang ustaz itu sendiri tak mengerti antara permata yang asli dan palsu sehingga ia terus-menerus mengelabui manusia karena kejahilannya.

Pembaca yang budiman, disinilah pentingnya menggali makna dan rahsia taqwa agar kita mendulang keutamaan dari lautan taqwa. Para ahli ilmu (ulama) telah mengutarakan pengertian dan makna taqwa. kita nukilkan beberapa pengertian taqwa dari ulama’ di bawah ini :

Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahani mendefinisikan taqwa dengan berkata, “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa , dengan cara meninggalkan apa yang dilarang, dan hal itu menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.” [Lihat Al-Mufrodat fi Ghoribil Qur’an(hal. 545)].

Al-Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan, ”Mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya.” [Lihat Tahrir Alfazh At-Tanbih (hal. 322)].

Al-Imam Ibnu Rajab berkata, “Taqwa seorang hamba kepada Allah, ia membuat pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang ia takuti dari Rabb-nya berupa kemarahan, murka, dan siksaan-Nya; pelindung itu akan menjaga dirinya dari hal tersebut. Sedang ia (pelindung itu) adalah melakukan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi kedurhakaan kepadaNya”. [Lihat Jami'ul Ulum wal Hikam (1/158)]

Seorang tabi’in, Thalq bin Habib-rahimahullah- berkata, “Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah kerana mencari pahala di sisi Allah, dan engkau meninggalkan maksiat berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, kerana takut terhadap siksaan-Nya”. [Lihat Ar-Risalah At-Tabukiyyah (hal.10)]

Dari beberapa buah makna yang diutarakan oleh para ahli ilmu tersebut, kita boleh memetik faedah bahwa taqwa memiliki beberapa asas:

  • Melakukan Ketaatan kerana Mengharap Pahala di sisi Allah
  • Meninggalkan dan Menjauhi Maksiat karena Takut kepada-Nya.
  • Mengetahui Dengan Ilmu Segala Ketaatan yang akan Dikerjakan, dan Maksiat yang ia Jauhi.

Barangsiapa yang mengaku bertaqwa, namun ia tak melakukan ketaatan (seperti solat, sedekah dsg), maka ia tak mungkin akan mencapai puncak taqwa. Ini adalah peringatan bagi orang-orang sufi yang mengaku bertaqwa, walaupun tak lagi mengerjakan solat!!

Demikian pun, siapa sahaja yang mengaku mampu bertaqwa dengan sempurna, sedang ia berlumur dosa. Demi Allah, ini hanyalah khayalan dari syaitan! Seorang yang ingin mencapai puncak taqwa harus meninggalkan maksiat. Jika ia terlanjur bermaksiat, maka ia segera memperbaiki dirinya dan meninggalkan maksiat serta bertaubat kepada Allah dengan menyesali dosa maksiat tersebut, dan menggantinya dengan kebaikan dan amal soleh.

Inilah yang digambarkan oleh Allah -Ta’ala- dalam firman-Nya (yang ertinya):

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (Ali Imran: 133-136).

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Mu’adz,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kepada Allah dimana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan kebaikan, maka perbuatan baik itu akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik” [Hadis Riwayat Imam at-Tirmidzi no: 1987, dihasankan oleh Syaikh al-Albani]

Allah -Ta’ala- menyifatkan orang-orang yang bertaqwa iaitu yang bergaul kepada makhluk dengan akhlak yang baik, seperti berinfaq, menahan amarah, memberi maaf kepada mereka. Jadi, Allah menggabungkan dua hal dengan menggambarkan mereka dengan sifat memberikan infaq, dan menahan beban gangguan orang lain.

Sedang ini adalah puncak kebaikan akhlak yang diwasiatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Mu’adz. Kemudian Allah menyifatkan mereka bahwa mereka, apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak terus-menerus di atas dosa.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang bertaqwa terkadang terjadi pada diri mereka dosa-dosa besar (iaitu perbuatan keji), dan dosa-dosa kecil (iaitu, menzalimi diri sendiri). Akan tetapi, mereka tidak terus-menerus di atas dosa-dosa itu; mereka segera mengingat Allah setelah terjadinya hal itu, dan memohon ampunan kepada-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Sedang taubat itu adalah tidak terus-menerusnya seseorang di atas maksiat. [Lihat Iqozhul Himam (hal. 250) karya Salim Al-Hilaliy]

Seorang yang mengingat Allah, kebesarannya, kerasnya siksaan Allah akan melahirkan kesedaran untuk segera rujuk dan bertaubat kepada Allah pada saat itu juga, memohon ampunan dari-Nya, dan tidak lagi terus di atas maksiat. [Lihat Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum (hal. 250)]

Allah -Ta’ala- berfirman (yang ertinya),

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa godaan dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”. (QS. Al-A’raaf: 201).

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Al-Qurosyi -rahimahullah- berkata, “Allah -Ta’ala- mengkhabarkan tentang orang-orang bertaqwa dari kalangan hamba-hamba-Nya yang kepada-Nya dalam perkara yang Dia perintahkan, dan meninggalkan sesuatu yang Dia larang, bahwa bila mereka ditimpa godaan syaitan, maka mereka mengingat siksaan Allah, pahala yang besar, janji, dan ancaman-Nya. Kemudian mereka pun bertaubat, sedar, berlindung kepada Allah, dan rujuk kepada Allah dalam waktu yang cepat”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (2/370) dengan sedikit tashorruf]

Ketika seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaknya seorang melakukannya kerana mencari pahala di sisi Allah -Azza wa Jalla-, bukan kerana mencari pujian, pangkat, KEDUDUKAN, dan PERHATIAN MANUSIA! Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (QS. Al-Anbiyaa’: 90).

Inilah tanda orang yang ikhlas dalam amalan ketaatannya; ia melakukan kebaikan kerana mengharap pahala, dan meninggalkan maksiat kerana cemas terhadap seksaan yang disediakan oleh Allah atas maksiat itu.

Keikhlasan dalam ketaatan dan ibadah adalah syarat diterimanya amal ibadah kita, kerana syarat diterimanya pahala amal kita ada dua: IKHLAS dan ITTIBA’ (meneladani petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli ilmu [Lihat Tafsir Ibnu Katsir(1/156), dan Tahqiq Adab Al-Isyroh (hal.4)]

Selain itu, ketaatan yang kita akan lakukan, harus dilandasi asas ilmu syar’i, iaitu ilmu wahyu yang tersimpan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana hal maksiat yang kita akan jauhi atau tinggalkan harus diketahui dengan ilmu bahawa itu adalah maksiat.

Jadi, seorang yang ingin bertaqwa haruslah mengamalkan ketaatan yang didasari oleh ilmu syar’ie, bukan hanya taqlid buta, karena boleh jadi, jika dia jahil, dia menyangka suatu perbuatan adalah amal ibadah dan ketaatan, namun ternyata amal buruk, seperti keadaan orang-orang yang melakukan DZIKIR SECARA BERJAMAAH dewasa ini, atau orang-orang yang membersihkan hatinya dengan lantunan musik! Dikiranya amal soleh, ternyata perbuatan baru yang tak ada tuntunannya dalam Islam!

Seorang yang meninggalkan maksiat pun harus atas dasar ilmu, kerana boleh jadi ia meninggalkan suatu perkara ketaatan, karena ia mengiranya sebagai kemaksiatan, seperti sebahagian orang, ada yang meninggalkan nikah kerana alasan nikah itu adalah perkara yang menyibukkan dari mengingat Allah sehingga nikah itu seakan-akan sebuah maksiat yang ditinggalkan. Sedangkan teladan kita, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kita menikahi wanita. Andaikan nikah terlarang, maka beliau pasti tak akan menikah dan tidak menganjurkannya.

Kerananya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah menegur tiga sahabat yang tak mahu menikah, salat semalaman suntuk, dan puasa terus-menerus, berikut adalah hadisnya:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟! أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ, لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّيْ وَأَرْقُدُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Kaliankah yang menyatakan begini dan begitu?! Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan paling bertaqwa kepada-Nya. Tetapi, aku tetap berpuasa dan berbuka, solat dan tidur, serta menikahi para wanita. Barangsiapa yang berpaling dari sunnah (petunjuk)ku, maka ia bukan termasuk dari golonganku”. [HR. Al-Bukhori dalamKitab An-Nikah (9/104_ Fath), dan Muslim (1401)]

Disinilah nampak fungsi dan kepentingan ilmu, sebab ia akan memandu dan menjelaskan kepada kita antara yang baik dan yang buruk. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهًُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. [HR. Muslim dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a (38)]

Seorang yang berilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga. Kenapa?! Kerana dengan ilmunya, ia akan mengetahui sesuatu yang diperintahkan oleh Allah sehingga ia pun mengerjakannya; ia akan mengetahui juga perkara yang dilarang oleh Allah sehingga ia pun menjauhi dan meninggalkannya. Lalu, inilah disebut orang “MUTTAQIN” (orang-orang yang bertaqwa).

Semoga Allah menjadikan kita orang yang bertaqwa kepada-Nya, amin…

Kongsikan:

Related Posts

Prinsip 1aqidah.net

1 - al-Qur'an & as-Sunnah sebagai pegangan.

2 - Memahaminya di atas pemahaman para Salafus Soleh yang terdiri dari para Sahabat yang diredhai, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in.

3 - Melalui para ulama yang berdiri teguh di atas jalan mereka.

4 - Memastikan agama ditegakkan di atas fakta yang sahih lagi ilmiyah.

Kongsikan 1aqidah.net
Blog Traffic

Pages

Pages|Hits |Unique

  • Last 24 hours: 831
  • Last 7 days: 6,357
  • Last 30 days: 23,320
  • Online now: 5
LIKE 1AQIDAH.NET di Facebook
Plugin from the creators ofBrindes :: More at PlulzWordpress Plugins